Selasa, 29 Maret 2011

KESUKARAN DALAM PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN

Pekerjaan mendidik bukanlah pekerjaan yang mudah. Hasil pekerjaan itu tidak dapat sama sekali kita tentukan lebih dulu seperti halnya dengan orang yang mencetak kue atau membuat benda-benda lain. Hasil dari perkarjaan mendidik tidak hanya ditentukan oleh kehendak sipendidik sendiri, tetapi juga ditentukan oleh banyak faktor lain. Didalam pendidikan, faktor-faktor lingkungan dapat mempengaruhi dan bahkan turut pula mempengaruhi pertumbuhan anak didik.
Mengingat akan hal-hal tersebut, sudah tidak sangsikan lagi bahwa didalam pendidikan terdapat bermacam - macam kesukaran atau kesulitan yang disebabkan oleh keadaan atau pembawaan anak itu sendiri maupun oleh lingkungan atau oleh sipendidik itu sendiri. Dan selanjutnya mentari jalan yang praktis pedagogis untuk mengatasi kesukaran - kesukaran yang sering kita jumpai itu. Adapun beberapa kesukaran yang dimaksud akan dibahas secara singkat dalam makalah ini.
Salah satu kesukaran tersebut yaitu dusta pada anak. Dusta termasuk salah satu tabiat atau kesalahan yang sering terdapat pada anak-anak maupun orang dewasa. Dalam perkembangan aanak sejak kecil, kita perhatikan sebenarnya mula-mula anak itu tidak athu dan tidak pernah berdusta. Anak-anak yang berumur 3-4 tahun selalu mengatakan apa saja yang didengar dilihatnya dengan sesungguhnya. Ia mengatakan itu apa adanya saja.
Akan tetapi disebabkan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan dan karena kesalaha-kesalahan pendidikan keluarga, banyak anak yang mudah berbuat dusta. Pada anak-anak sekolah pun sifat suka berdusta ini banyak terdapat.




















BAB II
BEBERAPA KESUKARAN YANG TIMBUL DALAM PENDIDIKAN

A. Keras Hati dan Keras Kepala
Apakah yang dimaksud dengan keras hati dank eras kepala itu..?
Keras ahati dank eras kepala adlaah sifat-sifat anak yang sering sangat menyulitkan para orang tua atau pendidik-pendidik lain. Kedua sifat itu ada persamaannya, tetapi ada pula perbedaannya. Oleh karena itulah, ekduanya kita bicarakan bersama-sama dalam pasal ini.
Anak yang keras hati berbuat menurut nafsu dan kemaunnya sendiri, bertnetangan dengan tindakan orang lain. Ia mengemukakan kemauannya terhadap kemauan si pendiik. Ia berpegang teguh pada tujuannya sendiri, dan tidak hendak melepaskannya untuk tujuan lain.
Anak yang keras kepala tidak mau juga mengejerkan apa yang disuruhkan kepadanya, tetapi ia tidak memiliki alasan yang bertujuan. Yang ada hanyalah sifat yang pasif, yaitu menolak kemauan orang lain.
Dengan singkat dapatlah kita katakan sebagai berikut. Keras hati ialah bantahan terhadap suruhan orang lain karena ia ada tujuan dan maksud sendiri yang berlainana dengan apa yang disuruhkan kepadanya. Sedangkan keras kepala ialah bantahan terhadap suruhan orang lain, tetapi ia tidak ada alasan lain yang bertujuan.
Umumnya, sifat keras hati lebih banyak terdapat pada anak-anak dalam lingkungan keluarga, dan jarang terdapat disekolah terhadap gurunya. Akan tetapi, didalam pergaulan antara anak-anak sesamanya, sifat ini banyak terdapat. Anak yang keras hati biasanya tidak dihiraukan oleh teman-temannya kehendaknya, tidak dituruti. Sedangkan sifat keras kepala itu terdapat dalam lingkungan kelurga, juga dalam lingkungan sekolah.

a. Keras Hati
1) Apakah yang dpat menimbulkan keras hati pada anak ? Adapun sebab-sebabnya bermacam-macam, antara lain dapat kita sebutkan disini :
a) Karena pembawaan anak
Dapat kita perhatikan anak-anak yang sedang dalam pertumbuhan dari kecil, ada anak-anak yang menurut, yang ramah-tamah tegur-sapanya, dan ada pula anak-anak yang semenjak kecilnya telah menunjukkan kamauan yang keras dan yang mudah marah. Boleh dikatakan bahwa anak-anak yang disebut terakhir itu ditakdirkan memiliki sifat keras hati.
Dalam kehidupan sehari-hari sering kita dpaati anak yang sedari kecilnya telah menunjukkan sifat-sifat keras hati itu. Anak yang demikian kelihatannya nakal dan bandel, segala yang dilarang sama sekali tak diacuhkannya, sering ia “merusak” atau memecahkan alat-alat rumah tangga, dan jika tidak dituruti atau dilarang apa yang menjadi kehendaknya, lekas sekali timbul marahnya yang meluap-liap.
Tentu saja dalam hal ini perlu sekali, pendidikan yang tepat, yang sesuai dengan tabiat anak itu. Pendidikan hendaklah dapat bertindak bijaksana, janganlah memerintah dan melarang jika tidak benar-benar perlu. Sebab, kita mengetahui bahwa sikap yang demikian yang ada pada anak itu baik, bahkan merupakan suatu keharusan. Bukanlah tujuan pendidik itu antara lain ialah mendidik anak-anak agar mempunyai kemauan yang keras, percaya kepada kemampuan diri sendiri, tidak selalu bergantung kepada orang lain ? jadi, hendaknya perintah dan larangan itu, jika memang diperlukan, diberikan dengan lemah-lembut teteapi tegas.

b) Karena keadaan badan yang terganggu.
Tiap-tiap anak, dan barangkali juga tiap-tiap manusia, mempunyai hasrat berbuat sebaliknya dari yang diminta orang lain kepadanya. Hasrat yang demikian itu (keras hati) akan lebih besar jika ia sedang tidak sehat badannya, atau kalau ia kurang tidur, umpamanya, atau baru sembuh dari sakti. Demikian pula anak yang penggugup dan mudah kena perangsang, sifat itu tampak lebih besar lagi.

c) Karena perkembangan rohani anak
Dari ilmu jiwa anak, kita elah mengetahui bahwa dalam perkembangan semenjak bayi sampai menjadi dewasa, anak mengalami dua masa kritis yang dalam batinnya terdapat ketidakseimbangan. Yang pertama pada masa kanak-kanak (± 3 – 5 Tahun) yang disebut juga masa krisis pertama atau pubertas pertama, atau sering pula disebut masa menentukan (trotz alter). Yang kedua ialah pada pubertas atau masa remaja, pada waktu anak mengalami guncangan-guncangan dan ketidakseimbangan dalam pertumbuhan jasmani dan rohaninya.
Ditinjau dari sudut perkmebangan anak, sifat kerras ahati dan juga keras kepala itu dpaat kita pandang sebagai suatu hal yang sewajarnya.
Kebanyakan ahli ilmu jiwa berpendapat bahwa timbulnya Trotz periode pertama atau masa menentang itu disebabkan anak itu mulai menyadari bahwa dirinya mempunyai kamauan, kemauan anak mulai berkembang. Ia ingin selalu mencoba kemauannya itu yang biasanya berlawanan dengan kemauan orang dewasa. Oleh karena itu, acap kalo oa menjadi pembantah, penentang, tidak menurut apa yang dikehendaki orang lain darinya.
Tetapi, tidak berarti bahwa keadaan demikian itu harus kita biarkan saja. Dalam hal ini, pendidikan harus bersikap sabar dan bijaksana. Dalam hal-hal yang kecil-kecil kadang-kadang perlu pula kita turti kehendak anak itu. Disamping itu, kita harus memimpim anak itu kerarah jalan yang benar, yang bukan menuruti hawa nafsuya saja. Anak sekecil itu belum tahu mana yang beoleh dan mana yang tidak baik dalam arti susila. Dengan kata lain, hendaklah kemauan yang sedang tumbuh pada anak itu kita pupuk, kita pimin, dan kita arahkan kejalan yang semestinya.



2) Bagaimana usaha pendidik untuk mengatasi keras hati itu ?
Dalam uraian diatas, sambil lalu sebanarnya sudah kami singgung bagaimana mengatasi sifat keras hati yang ada pada anak-anak itu, tetapi, supaya lebih jelas, tidak ada jeleknya pula jika disini kami ikhtisarkan secara singkat :
a. Mempermudah anak-anak berlaku patuh dengan jalan membiasakan anak-anak hidup secara teratur dan tertib.
b. Perintah dan larangan hendaklah diberikan dengan lembah lembut dan dapat membesarkan hati mereka, jangan sekali-kali dengan keras dan kasar.
c. Hendaklah pendidik senantiasa ingat akan keadaan jasmani dan atau rohani anak pada waktu itu.
d. Janganlah memanjakan anak. Bertindaklah yang tegas, yang konsekuen agar anak-anak tahu apa yang harus menjadi pegangannya.
e. Dalam menghadapi anak yang keras hati itu kita harus bersikap tenang dan tegas, jangan kehilangan keenangan atau tergoyang kesimbangan batin kita, jadi kita harus tetap sabar.
f. Pada anak-anak kecil kadang-kadang berhasil juga dengan memelokkan perhatiannya kearah yang lain.
g. Sering dengan usaha “tidak begitu mengacuhkan” dapat berhasil juga. Dan bagaimanapun juga, makin sedikit orang lain yang tahu sifat anak itu, makin baik.
h. Dengan member hukuman kepada anak yang demikian itu, umumnya tidak berhasil dan tidak ada buahnya. Bagi anak-anak yang sudah agak besar dapat juga dengan memberikan sedikit kata-kata nasihat yang singkat.

b. Keras Kepala
1. Di atas telah kita katakana bahwa keras kepala ialah bantahan terhadap suruhan orang lain, tetapi ia tidak ada alasan lain yang bertujuan.
Supaya lebih jelas baiklah kita mulai dengan conoth misalnya Si B (3-4 Tahun) hamper setiap hari menyusahkan ibunya. Pada suatu hari si B baru saja bangun dari tidurnya, terus meminta minum kepada ibunya : di dapur. Setelah ibunya mengambilkannya, belum juga ia mau meminumnya, dan bahkan semakin merengek-rengek. Ia minta supaya minumannya diberi gula supaya manis. Hal itu pun diturut oleh ibunya. Sekarang ibunya berkata, “Sudah, sekarang sudah ibu beri gula dan sudah manis. Minumlah !” Si B masih juga belum mau minum, ia tetap merengek dan dimintanya sekarang makan. Ibunya makin kesal dibuatnya, tetapi akhirnya diambilnya pula nasi dengan lauk-pauknya….dan seterusnya.
Dari contoh tersebut jelaslah bahwa si B selalu mencobakan kehendaknya kepada orang lain dan selalu berusaha mebantah atau mengelak apa yang diminta.
Sering pula si B tidak mengerjakan suruhan-suruhan ayah atau ibunya, biarpun suruhan yang untuk kepentingan dia sekalupun. Umpamanya, dai tidak mau mengambil nasinya yang sudah tersedia dimeja dapur atau mengambil sepatunya sedniri, dan dia tetap menghendaki ibunya atau orang yang tertentu yang diinginkannya untuk mengmbilkannya.
Acapkali pula keras kepala itu timbul, jik anak menganggap atau merasa harga dirinya tersinggung. Sebagai contoh : Si A (± 3 Tahun) tidak mau lagi meminta kue kepada ibunya setelah seorang tamu (atau ibunya sendiri) meminta kepadanya supaya ia mau mengulangi kata-katanya yang lebih teratur dan sopan.

2. Sekarang perlu kiranya kita uraikan sedikit bilamana dan apa-apa saja yang dapat menimbulkan keras kepala itu.
a. Karena terlalu dimanjakan. Anak yang dimanja umumnya selalu dituruti apa yang menjadi kehendaknya, tidak boleh merasa sedih atau mengalami kesukaran, selalu ditolong, dan lain-lain. Akibatnya, anak itu bahkan mengalami kesulitan atau keskuran dalam permainan maupun dalam pekerjaan sehari-hari. Ia selalu berusaha mengelakkan kesukaran-kesukaran tersebut, segan melakukannya, dan ingin selalu mendapat pertolongan orang lain. Si anak merasa benar kelemahannya. Karena itu pula ia tidak menurut perintah, ia bekeras kepala.
b. Dapat juga keras kepala itu disebabkan karena iri hati terhadap adiknya yang baru lahir. Ia merasa kasih saying orang tuanya yang tadinya dicurakan kepadanya beralih kepada adiknya. Banyak kehendaknya yang tidak dapat dilayani oleh ibunya ia merasa kesal, sering membantah atau tidak menurut perintah orang tuanya.
c. Ada kalanya keras kepala itu disebabkan tindakan pendidikan sendiri. Umpamanya, karena anak itu banyak dicela atau ditertawakan, diejek ataupun dihina. Di sekolah guru hendaknya berusaha janagan mencela atau menertawakan anak itu. Demikian pula teman-temannya, jangan menertawakannya.
d. Tindakan yang keras dan kasar atau tidak menaruh kasih sayang, dapat pula menimbulkan keras kepadala. Tindakan sedemikian mudah melukai perasaan anak-anak serta mudah menjalar kepada anak-anak lain. Maka dari itu, jangan mencela dan menghukum seorang anak didepan teman-temannya atau dihadapan orang lain yang diseganinya.
Usaha - usaha yang dilakukan untuk menghilangkan sifat keras kepala yaitu :
a. Jangan terlalu memanjakan anak atau terllau banyak memberikan pertolongan. Didiklah anak-anak ke arah yang dapat berdiri sendiri dengan kemampuan sendiri.
b. Kalau keras kepala itu karena putus asa, gembirakan hati anak itu, jangan dicela atau dihina, tetapi berikanlah kepercyaan terhadap dirinya, besarkanlah hatinya.
c. Pendidikan hendaknya ingat tabiat anak-anak dan keadaannya pada waktu itu, lahir maupun batinnya. Mungkin anak itu sedang tidak sehat badannya atau sedang mengalami keruwetan didalam jiwanya.
d. Janganlah member tugas atau pekerjaan ang terllau sukar sehingga tidak dapat terpecahkan oleh anak. Tetapi, jangan pula terlalu mudah sehingga anak itu busan atau segan mengerjakannya.
e. Pada anak yang masih kecil, usaha kita dapat pula berhasil dengan membelokkan perhatian itu kerah lain, apalagi kalau tanda-tanda keras kepala itu baru mulai tampak.

B. Anak Yang Terlalu Dimanjakan
a. Apakah yang dimaksud dengan memanjakan ?
Dalam bab-bab yang telah lalu sudah berkali-kali dikatakn bahwa memanjakan anak itu tidak baik. Anak yang dimanjakan akan mengalami bermacam-macam cacat dalam jiwanya. Sebelum kita uraikan cacat-cacat jiwa manakah yang diderika anak yang dimanjakan itu, terlebih dahulu kita harus mengetahui sebenarnya yang dimaksud dengan memanjakan itu.
Kita dapat memanjakan anak dengan bermacam-macam cara :
1. Meliputi si anak dengan seribu satu macam pemiliharaan dan menyingkirkan segala kesulitan baginya.
2. Memenuhi segala keinginan si anak. Apa saja yang menjadi kehendak dan keinginan si anak – biarpun akan merugikan atau mengganggu kesehatan dan pertumbuhannya – dituruti saja.
3. Membiarkan dan membolehkan si anak berbuat sekehendak hatinya, jadi tidak membiasakan dia akan ketertiban, kepatuhan, peraturan, dan kebiasaan-kebiasaan baik lainnya.
Umumnya, orang tua yang memanjakan anaknya menggunakan ketiga macam cara tersebut diatas. Tetapi, banyak pula orang tua yang memanjakan anaknya dengan salah satu cara tersebut diatas.

b. Anak yang manakah yang biasanya dimanjakan ?
Masih ada yang beranggapan bahwa anak-anak yang dimanjakan ialah anak-anak orang kaya atau anak hartawan saja. Anggapan seperti itu tidak benar. Memanjakan anak tidak hanya terdapat dilingkungan kelurga orang-orang kaya saja. Dalam lingkungan keluarga yang kurang mampu pun banyak terdapat.
Dalam zaman sekarang ini rupa-rupanya kita dapat mengatakan bahwa hal memanjakan anak itu tidak tergantung pada kaya atau miskinnya suatu keluarga, tetapi lebih dipengaruhi oleh sedikit atau banyaknya pengetahuan orang tua akan ilmu pendidikan atau hal mendidik anak-anaknya. Tentu saja pengetahuan orang-orang tua tentang hal mendidik ini tidak usah sellau diterimanya dari sekolah, teapi banyak pula yang didapat dari pengalaman-pengalamannya terhadap dunia sekelilingnya.
Dengan demikian, tidak berarti bahwa kita hendak mengatakan biarpun umumnya memang demikian orang-orang yang tahu tentang pendidikanlah yang lebi tidak memanjakan anaknya dari pada orang yang tidak tahu sama sekali ilmu pendidikan.
Terlepas dari soal terebut diatas, umumnya kita sependapat bahwa kebanyakan anak yang diancam bahaya “dimanjakan” ialah :
1. Anak tungal
2. Anak sulung adiknya belum lahir
3. Anak yang termanis atau terpandai diantara saudara-saudaranya
4. Anak yang sering sakit
5. Anak yang cacat
6. Seorang anak laki-laki yang saudaranya perempuan-perempuan
7. Seorang anak perempuan yang saudara-saudaranya laki-laki semuanya
8. Anak yang diasuh oleh neneknya
9. Anak angkat.

c. Apakah yang menungkinkan orang tua atau pengasuh-pengasuh lain memanjakan seorang anak ?
Hal – hal yang dapat menyebabkan pemanjaan itu antara lain ialah :
1. Karena ketakutakn yang berlebihan-lebihan akan bahaya yang mungkin mengancam si anak. Dalam hal yangdemikian orang tua akan selalu berusaha melindungi anaknya dari segala sesuatu yang mengandung bahaya. Dilarangnya anaknya berlari-larian, bermain di panas matahari dibelanya jika ia berkelahi atau bertengkar dengan temannya.
2. Keinginan yang tidak disdari untuk selalu menolong dan memudahkan kehidupan si anak. Mereka berpikir bahwa semua pekerjaannya itu semata-mata hanya untuk kepentingan si anak. Ereka takut kalau – kalau tidak diperlukan lagi oleh sianak. Akibatnya, orang tua member pertolongan yang berlebih-lebihan pada si anak, ia memanjakannya.
3. Karena orang tua sendiri takut akan kesukaran, segan bersusah-susah, ingin mudah dan enaknya saja. Orang tua takut kalau si anak bertindak atau membandel dan terus merengek-rengek saja jika kehndaknya tidak dituruti. Lagi pula, mereka merasa lebih muda berbuat menuruti kehendak anaknya daripada berlaku sabar atau menahan nafsu amarahnya sambil mencari akal yang bijaksana dan lebih bersifat pedagogis. Tetapi, mereka lupa bahwa dengan perbuatan demikian itu si anak lebih akan menyukarkan dan menuntut lebih banyak lagi. Itulah pula sebabnya seorang pengasuh sering memanjakan anak majikannya. Ia takut kan kesukaran, kesukaran yang timbul dari si anak dan kemarahan majikannya.
4. Karena kebodohan orang tua. Kebanyakan orang tua, baik yang tidak terpelajar sekalipun, mengatahui apa yang dapat diperolehkan dan apa yang harus dilarang bagi anak-anaknya,. Tetapi, ada pula orang tua yang memang sama sekali tidak tahu cara mengasuh anaknya. Merekatidak menurut peraturan-peratuan yang baik untuk terdapat pada pengasuh-pengasuh anak-anak kita. Maka dari itu, hati-hatilah memilih seorang pembantu sebagai pengasuh anak-anak.






d. Bagaimana akibatnya anak yang dimanjakan ?
Tidak semua anak itu akan mengalami cacat-cacat atau aibatnya yang sama. Kita mengetahui bahwa anak itu berlain-lainan. Ada anak yang sukar terpengaruh pemanjaan, dan ada pula anak yang mudah menjadi sukar terpengaruh pemanjaan, dan ada pula anak yang mudah menjadi bersifat tidak baik karena pemanjaan. Lagi pula, tidak semua orang tua memanjakan anaknya sama beratnya. Tetapi, hendaknya kita kita mengetahui bahwa hampir semua anak suka dimanjakan. Anak yang dimanjakan akan menderita akibat-akibat buruk, yang seorang lebih hebat daripada yang lain. Akibat-akibat buruk itu antara lain adalah :
1. Anak akan mempunyai sifat memintingkan dirinya sendiri. Anak dimanja telah merasa dari kecilnya bahwa orang lain selalu menolongnya, selalu memandang dirinya lebih penting daripada yang lain. Akibatnya, setelah anak menjadi besar, akan menjadi orang yang selalu ingin dipandang, ingin ditolong, merasa kepentingan sendiri lebih penting daripada kepentingan orang lain. Ia selalu ingin dipuji, ingin menang sendiri sehinga akhirnya dapat menjadi orang yang congkak dan tamak, perasaan sosialnya kurang.
2. Kurang mempunyai rasa tanggung jawab. Anak yang dimanjakan selalu mendapat pertolongan, segala kehendaknya diturut, tidak boleh dan tidak pernah menderita susah dan kesurakan. Tidak meustahil jika hal – hal petolongan dan mengharapkan belas kasihan orang lain. Ia tidak sanggup berikhtiar berinisiatif sendiri. Ia selalu berusaha menghindari keskuraan dan kesusuhan dalam hidupnya. Biarpun telah berkeluraga, ia masih selalu mengharapkan bantuan orang tuanya, baik moril aupun materil.
3. Memanjakan dapat juga mengakibatkan anak menadi mempunyai perasaan harga-diri-kurang. Kebiasaan menerima pertolongan dan selalu mendapat bantuan, akibatnya anak itu menjadi orang yang “selalu dapat” mengerjakan atau memecahkan suatu masalah dalam hidupnya. Ia merasa bodoh, tidak sanggup, merasa harga-diri-kurang. Selanjutnya, menyebabkan anak itu lekas putus asa dan keras kepala.

e. Bagaimana usaha pendidik untuk menolong anak itu ?
Petunjuk-petunjuk singkat ini dapat kiranya menolong kita dalam mendidik anak-anak itu :
1. Janganlah mengindahkan anak yang manja itu lebih dari pada anak-anak lain. Pendidik harus berusaha agar anak yang manja menginsafi bahwa ia tidak berbeda dengan anak-anak lain.
2. Didiklah mereka itu kearah percaya kepada kemampuan diri sendiri. Dalam hal ini, pendidik jangan member pertolongan kepadanya, jika tidak pelu benar.
3. Besarkan hatinya terhadap hasil-hasil usahany yang telah dikerjakannya sendiri, kalau perlu pujilah mereka. Jagalah agar mereka jangan bertambah kecil hatinya.
4. Kembangkan perasaan sosial anak itu. Biasakah ia bekerja sama, bantu-membantu dengan teman-temannya.
5. Yang penting pula ialah menginsafkan orang tua bahwa perbuatan mereka memanjakan anak itu adalah keliru dan harus diubahnya. Hal ini akan mudah dilaksanakan jika ada kerja sama antara sekolah dan keluarga. Tentang bagaimana mempererat hubungan antara keluarga dan sekolah, akan diuraikan dalam bab lain.




C. Anak Yang Tidak Diperhatikan Dalam Keluarga
Anak yang tidak diperhatikan dalam kelurga biasanya berasal dari lakangan orang-orang kaya, yang ayah dan ibunya sibuk meniti karier atau berkerja. Sehingga anak kurang diperhatikan oleh ayah dan ibunya menutup kemungkinan bahwa anak seperti itu berasal dari kalangan keluarga yang kurang mampu. Biasanya anak seperti itu akan mudah terpengaruh oelh lingkungannya bisa jadi anak tersebut lari ke hal-hal yang menurut ida bisa membuatnya nyaman, bahagia, tanpa dia menyadari hal tersebut bisa menjerumuskannya kepada hal-hal yang kurang baik, sebaiknya walupun orang tua sibuk berkerja, setidaknya harus melelangkan waktu buat anak-anaknya walaupun sedikit.




D. Dusta Anak
a. Pendahuluan
Dusta termasuk salah satu cacat atau kelasalahan yang sering terdapat pada anak-anak maupun orang dewasa. Dalam bab ini kami perlu bicarakan juga, sebab, kecuali dusta itu merupakan suatu sifat yang tidak baik, tidak susila, yang harus diberantas, juga merupakan kesukaran-kesukaran pula, terutama bagi orang tua, yang umumnya disebabkan mereka kurang mengetahui bagaimana cara mendidik anak-anak agar tidak menyukai dusta itu.
Dalam perkembangan anak sejak kecil, kita perhatikan bahwa sebenarnya mula-mula anak itu tidak atahu dan tidak pernah berdusta. Anak-anak yang berumur 3 – 4 tahun selalu mengatakan itu apa saja yang didengar dan dilihtnya dengan sesungguhnya. Ia mengatakan itu apa adanya saja.
Akan tetapi, disebabkan oleh pengaruh-pengaruh lingkungan dn karena keslahan-kesalahan dalam pendidikan keluarga, banyak anak yang mudah bebuat dusta. Pada anak-anak sekolah pun sifat suka berdusta ini banyak terdapat.
Maka dari itulah, disini kelihatan pula betapa perlunya para guru turut berusaha memberantas sifat pendusta pada anak-anak. Dalam hal ini tentu saja akan lebih berhasil jika para guru atau sekolah dapat bekerja sama dengan orang tua dalam mendidik anak-anaknya. Tentang bagaimana cara mempererat hubungan antara sekolah dan rumah tangga atau keluarga, akan diuraikan kemudian. Yang epnting bagi kita sekarang ialah mengetahui sifat-sifat dusta yang terdapat pada anak-anak, dan bagaimana kemungkinan memberantasnya.

b. Macam – macam Dusta pada Anak
Sebelum kita uraikan bagaimana kemungkinan untuk memberantas dusta yang ada pada anak-anak itu, terlebiih dahulu perlulah kita ketahui bahwa perkataan-perkataan anak yang tidak sesuai dengan kenyataan kebenaran itu tidak semuanya dapat kita namakan dusta.
Si Akhmad (± 3 tahun) berbicara kepada temanya bahwa ia akan dibelikan tiga buah mobil oleh ayahnya untuk ke sekolah setiap hari, dan yang dua buah lagi untuk pesiar dan berbelanja ke kota.
Si Tuti (± 3 ½ tahun), ketika pulang dari kebunya, berbicara kepada ibunya bahwa tanaman-tanaman ubi ayahnya habis dimakan kambing. Ketika ibu menanyakan beberapa ekor kambing yang masuk kekebun, dijawabnya kambing banyak sekali dan besar-besar, tetapi sekarang kambingnya telah lari semuanya dikejar dan akan diterkam oelh harimau. Padahal sesungguhnya hanya ada dua ekor kambing yang makan tanaman, kemudian kambing itu dihalau oleh ayahnya keluar kebun.
Pada contoh di atas tidak tepat jika hal itu dikatakan dusta. Lebih tepat kalau perbuatan atau kata-kata si Akhamad dan si Tti tadi kita namakan dusta semu.
1. Dusta Semu
a. Dari contoh diatas nyatalah pada kita bahwa si Akhmad dan si Tuti tidak merasa benar-benar berdusta. Mereka belum mengetahui benar-benar tentang buruk dan baik dalam arti susila. Lagi pula, mereka tidak mempunyai tujuan menipu atau berdusta pada orang lain. Dengan kata – katanya itu mereka tidak mengharapkan sesuatu, tiada sesuatu yang hendak dicapainya dengan perbuatan atau kata-katanya. Suatu perbuatan dapat kita katakana dusta yag sebenarnya jika yang melakukan itu.
1. Menginsafi benar-benar bahwa ia berdusta
2. Mempunyai tujuan untuk menipu orang lain
3. Dengan dustanya itu ia mengharapkan mencapai suatu maksud.
Diluar ketiga hal tersebut, dusta anak-anak adalah dusta semu.
Pengertian tentang dusta semua ini penting sekali terutama bagi para orang tua yang setiap waktu berhadapan dan bergaul dengan anak-anaknya. Dengan demikian, orang tua selalu dapat membimbing perkembangan jiwa anak itu ke arah sifat-sifat dan watak yang baik dan jujur.


b. Apakah yang meyebabkan anak-anak melakukan dusta semua ?
Yang menyebabkan anak-anak kecil itu sering melkukan dusta semu antara lain :
1. Pengamatannya yang belum sempurna
Para ahli ilmu jiwa anak telah mengadakan penyeldiikan-penyeledikan yang seksama tentang perkembangan pengamatan anak-anak. Ternyata pengamatan pada anak-anak itu mula-mulanya bersifat global, kesluruhan, dan kabur. Bagian-bagian benda atau situasi belum dapat diamati dengan teliti. Tambahan pula, anak-anak belum dapat mengamati sesuatu dengan teratur menurut urutan yang semestinya.
Hal ini, kecuali disebabkan memang perkembangan pengamatan anak itu harus mengalami suatu proses dari keseluruhan (gestalt) menuju ke bagian-bagian (sturktur), juga disebabkan sesuatu yang diminta itu belum seberapa mendalam dan bahkan mungkin belum ada.
Disamping itu, bkanlah diketahui pula bahwa pengamatan anak-anak sangat dipenagruhi oleh keinginan dan perasaannya. Dari pengalaman sehari-hari, pembaca dapat mengetahuinya. Jika seorang anak berumur 3 atau 4 tahun kia ajak berjalan-jalan keliling kota, umpamanya, atau masuk kesebuah took, dapat kita lihat dengan jelas bahwa apa-apa yang menarik perhatiannya ialah yang ada hubungan dengan keinginan atau kehendaknya. Seringkali pula ia tetarik perhatiannya kepada sesuatu yang merangsang perasaannya, baik yang menyenangkan maupun yang menakutkan.
Oleh sebab itulah, orang tua atau guru jangnlah cepat-cepat mempercayai atau menganggap benar seluruh keterangan yang diajukan oleh anak-anak dalam usia semuda itu, apalagi jika keterangan-keterangannya itu bersifat pengaduan mengenai dirinya. Anak-anak belum dapat dijadikan saksi dalam suatu perkara. Tetapi, jangan pula kita cepat menganggap anak itu berdusta jika keterangan-keterangan atau pengaduan-pengaduan anak itu tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenaranya.

2. Karena daya ingatan anak belum sempurna
Tiap-tiap fungsi jiwa pada anak mengalami perkmbangan yang makin lama makin sempurna. Disamping pengamatannya, juga daya ingat anak mengalami perkembangan. Mula-mula ingatan anak belum dapat tahan lama, anak lekas melupakan apa yang telah terjadi, yang belum lama diamatinya. Karena pengamatannya yang bersifat global dan kabur itu, ia cepat lupa dan tidak dapay menceritakan kembali apa yang sudah pernah dialaminya. Dalam kehidupan sehari-hari dapat kita perhatikan bahwa anak-anak berumur dibawah enam tahun tidak dapat benar-benar dipercaya untuk belanja ke warung, membeli ini dan itu.
Selain itu, perlu tambahkan disini bahwa “pengamatan tentang waktu” pada anak-anak belum ada atau masih kurang smpurna. Anak belum mengerti apa artinya minggu yang lalu, setahun yang sudah, dua minggu lagi dan sebagainya. Dengan demikian, tidak mengherankan jika keterangan-keterangan atau pembicaraan-pembicaraan anak mengenai hal-hal yang sudah lama terjadi banyak yang tidak benar dan tidak tepat lagi. Jangankan pada anak-anak, pada orang-orang dewasa pun hal itu masih selalu terdapat.
Seorang ahli psikologi bangsa Jerman, Oswald Kroh, menamakan masa anak sampai kira-kira berumur 8 tahun itu ialah masa sintesis fantasia tau realism fantasi. Pada masa ini anak-anak belum dapat membedakan atau menisahkan fantasinya sendiri dengan kenyataan-kenyataan (realitas) yang dialaminya. Fantasi dan kenyataan masih bercampur aduk di dalam dirinya. Kita masih ingat kata-kata si Akhmad dalam pasal yang lalu, yang mengatakan bahwa ia akan dibelikan tiga buah mobil oleh ayahnya. Mungkin aia pernah berkata kepada ayahnya agar ayahnya mau membelikan tiga buah mobil, dan ayahnya menjawab, “Ya, nanati jika sengakau sudah besar dan sudah besekolah di sekolah dokter.” Maksud ayahnya itu adalah agar ia jangan merengek saja, dan supaya ia lekas timbul kemauannya untuk bersekolah seperti kakak-kakaknya. Tetapi, bagaimana penerimaan si Akhmad terhadap kata-kata ayahnya itu ? Kata-kata ayahnya ditambahnya dengan macam-macam fantasinya sendiri, yang kemudian “dibual-bualkan” kepada teman-temannya.


2. Dusta sebenarnya
a. Diatas telah dikatakan bahwa suatu perbuatan baru dapat dikatakan dusta sebenarnya jika perbuatannya itu dilakukan dengan sadar dan segaja. Yang melakukan menginsafi bahwa perbuatannya yang tidak baik itu segaja atau terpaksa dilakukan untuk menipu orang lain karena ada suatu maksud yang hendak dicapainya untuk kepentingan diri sendiri.
Agar lebih jelas, kami berikan sebuah contoh : pada suatu hari Aminah, seorang pelayan dari keluarga Pak Abas, memecahkan sebuah gelas yang akan dicuci. Untuk mengelakkan kemarahan tuannya atas kecerobohab bekerjanya, si Aminah mencari akal supaya terhindar dari tuduhan-tuduhan yang sudah tentu tidak mengenakkan hatinya. Dikumpulkannya semua pecahan gelas itu sampai bersih, kemudian dibawanya ke kebun dan ditimbunnya dengan tanah agar tidak kelihatan. Esok harinya, dengan tidak disangka-sangka, diketahui oleh Ibu Abas bahwa gelasnya kurang satu. Ditanyakannya kepada si Aminah, tetapi si Aminah tidak mau mengakuinya ia mengatakan bahwa kemarin ia melihat si Acih, anak Pak Abas yang masih kecil, bermain-main keluar rumah dengan membawa-bawa gelas……,dan sebagainya.


b. Beberapa macam dusta sebenarnya dan sebab-sebabnya.
1. Dusta karena takut
Kebanyakan dusta pada anak-anak adalah dusta karena takut. Anak takut dimarahi oleh ayahnya atau gurunya, maka ia lalu berdusta. Orang tua atau guru yang selalu bersikap keras dan suka menghukum anaknya menyebabkan anak-anak itu berbuat dusta. Dusta semacam ini disebabkan pula karena anak-anak takut kalau-kalau orang tua atau gurunya tidak mempercayai mereka.
2. Dusta sosial atau dusta altuistis
Dusta macam ini dilakukan anak untuk melindungi orang lain. Seorang anak berdusta terhadap gurunya dengan maksud supaya, dengan dustanya itu, seorang temannya akan terhindar dari hukuman. Baiklah dusta semacam ini ?. Bagaimana sikap pendidik terhadap anak yang melakukan dusta semacam itu ?. semua macam dusta tidak baik, biarpun untuk menolong orang lain. Dalam hal ini pendidik harus dapat menginsafkan anak-anak bahwa berhasrat menolong orang lain tidak boleh dan tidak baik dengan jalan berdusta. Tiap-tiap tujuan yang baik dam suci hendaklah dicapai dengan jalan yang baik dan suci pula.
3. Dusta untuk kepentingan sendiri atau dusta egoistis
Dusta macam inilah umumnya yang banyak terdapat, baik pada anak-anak maupun pada orang dewasa. Sebab ada nafsu, tamak, loba, nafsu mendapatkan kesenangan, juga karena sifat malas dan enggan bersusah-susah. Tiap-tiap anak mempunyai bermacam-macam kebutuhan dan keperluan yang harus dipenuhi karena kesalahan atau karena ada tekanan dari sipendidik, maka jalan satu-satunya yang termudah bagi anak-anak itu ialah dengan berbuat dusta. Dusta macam ini hendaklah mendapat perhatian besar dari para pendidik dalam memberantasnya. Pemberian hukuman kepad sipendusta merupakan hal yang sewajarnya pula. Termasuk dusta macam (3) ini terdapat pula dusta karena iri hati dan dengki terhadap orang lain.

4. Dusta Kompensasi
Dusta kompensasi adalah dusta yang dilakukan anak disebabkan perasaan kurang harga diri. Anak-anak yang menderita perasaan kurang harga diri sering menganggap bahwa orang-orang disekitarnya memandang rendah terhadap mereka. Karena sangkaan dan anggapannya itu, ia menjadi anak yang selalu merasa dirinya lemah, lebih bodoh dari orang lain, tidak dapat dan tidak sanggup bebuat sesuatu, dan lain-lain. Untuk mengimbangi perasaan-perasaan itu, ia mencari jalan lain agar ia menjadi orang yang terpandang, menjadi pusat perhatian orang lain, dipuji orang, dan sebagainya. Banyak anak yang mencari jalan untuk mencapai tujuannya itu dengan jalan berdusta, yaitu dusta karena ingin terpadang.

E. Anak yang terkontaminasi Narkoba
Sekolah kini bukan tempat yang steril dari penjualan zat adiktif berbahaya. Masih ingat heboh beberapa waktu lalu mengenai berita dijualnya permen-permen berisi narkoba di lingkungan SD? Menurut data Yayasan Cinta Anak Bangsa (YCAB), lembaga yang perduli pada pencegahan bahaya narkoba, dari survei terhadap 1.662 mantan pengguna narkoba, 60 orang (3,6%) di antaranya sudah mencoba narkoba sejak SD!
Terkontaminasinya anak usia SD pada narkoba, menurut Dra. Tri Iswardani M.Si., psikolog UI, umumnya bukan karena keinginan si anak untuk menggunakan narkoba. Biasanya, lebih karena tidak sengaja. "Misalnya, gara-gara si adik melihat kakaknya menggunakan narkoba. Karena takut diberitahukan ke ayah-ibu, si kakak menyuruh adiknya ikutan memakai, dengan iming-iming bahwa ngedrugs itu asyik. Bisa juga karena anak berteman dengan anak SMP yang menggunakan narkoba, sehingga ia mulai ingin coba-coba ngedrugs.
Anak SD mulai menjadi sasaran peredaran narkoba, karena menurut Tri, anak SD oleh pengedar dianggap sebagai potential user, karena mereka masih polos dan mudah dipengaruhi. Sedang menurut Veronica Colondam, ketua umum YCAB, karena anak SD belum tahu bahayanya, dan mereka juga punya banyak teman, pangsa pasar pengedar semakin banyak. "Anak-anak SD juga bisa dijadikan pelanggan seumur hidup karena sudah tergantung sejak dini."
Untuk menjaring pemakai, para pengedar narkoba memang tidak menawarkan obat secara langsung, seperti pada anak yang lebih besar. "Tapi dengan cara mencampurkan zat adiktif itu ke dalam makanan, permen karet, cokelat, yang dijual di luar atau di dalam sekolah," ungkap Tri, yang juga aktivis di Masyarakat Anti Narkoba (MAN). Kiat lain, kata Veronica, si pengedar menjual narkoba dengan cara menawarkan gratis kepada anak. "Biasanya gambar dan bentuk kemasan makanan atau permen berisi narkoba itu lucu hingga menarik perhatian anak.”
a. Ajari Sejak Pra-Sekolah
Untuk anak usia 6-9 tahun yang masih polos, agar ia tidak terkontaminasi narkoba, Tri mengingatkan agar orangtua menangkalnya dengan cara membawakan bekal makanan untuk mereka. "Selain lebih sehat dan bersih, juga terhindar dari zat adiktif yang sengaja dimasukkan oleh pengedar." Jangan lupa menjelaskan pada anak, jika diberi makanan oleh teman atau siapapun, mereka tidak boleh langsung memakannya tapi harus dibawa pulang.
Berhubung masih sedikit sekolah yang peduli bahaya narkoba dan menerangkannya kepada anak didik, Tri menyarankan agar orangtua juga membekali anak penjelasan tentang bahaya dan efek negatif narkoba sejak anak duduk di kelas 3-6 SD. Bahkan bila perlu, sejak masa pra-sekolah. Tentu, kata Tri, dengan cara dan bahasa yang mudah dimengerti anak.
Sejak pra-sekolah, misalnya, anak dididik untuk mengetahui apa yang boleh dimakan dan yang tidak boleh. Contoh, anak diberi tahu sabun itu wangi tapi tidak boleh dimakan. Setelah anak usia TK, mereka dapat diajari untuk membedakan mana makanan, obat, dan racun. "Katakan obat hanya boleh dikonsumsi jika diberikan oleh ayah atau ibu, dan harus sesuai aturan pakai. Kalau tidak, ia bisa sakit karena obat itu seperti racun. Dengan begitu anak tidak punya niat nyuri-nyuri minum obat sendiri, dan tertanam di jiwanya bahwa minum obat sembarangan bisa membuat sakit."
Untuk anak SD, orangtua bisa mengajari bahwa banyak racun di sekitar kita, seperti obat nyamuk, pewangi, karbol, dsb., sehingga harus hati-hati, karena jika terminum bisa meninggal. Ketika mereka duduk di bangku SMP hingga SMU, orangtua bisa menjelaskan tentang obat yang dibuat untuk menenangkan dan mengembirakan orang sakit jiwa. Tapi jika obat-obatan ini dikonsumsi orang normal untuk menyelesaikan masalah yang mereka alami, atau sekedar bersenang-senang, mereka bisa menjadi ketagihan, mabuk, dan membahayakan kehidupan mereka sendiri.
Diskusikan dengan anak masalah narkoba dan efek negatifnya. Menurut survei di AS, orangtua yang berbicara tentang narkoba pada anak sejak dini bisa mengurangi risiko anak terkena narkoba sampai 52%. Cara lain bisa disampaikan lewat contoh yang dilihat langsung oleh anak. Jika di TV ada berita seorang pengedar narkoba dihukum mati atau penjara seumur hidup, terangkan ke anak bahwa itu akibat mereka menggunakan narkoba. Atau jika di dekat rumah ada sekelompok anak muda sedang mabuk, segera beritahu anak efek mabuk-mabukan itu. "Anak lebih memahami jika melihat contoh konkretnya," terang Tri.

b. Pilah-pilah teman main cara mengtasai anak agar tidak terkontaminasi narkoba
Salah satu penyebab paling tinggi penggunaan narkoba pada anak adalah karena teman dan lingkungan. Supaya buah hati kita terhindar, ajari anak memilih teman bermain yang benar. Orangtau harus tahu seperti apa karakter teman si kecil, kondisi rumah dan orangtua si teman bermain.
Karena anak SD masih sangat polos, orangtua punya hak untuk menentukan ke mana, jam berapa, dan dengan siapa si anak akan pergi. Buat peraturan, kalau hendak jalan dengan teman-teman, harus ada salah satu orangtua mereka yang ikut, jangan dilepas sendiri. "Dengan adanya orangtua yang terlibat, anak-anak tidak akan terjerumus jika ada yang iseng menawari mereka obat-obatan terlarang," jelas Tri.
Pertahankan hubungan keluarga yang harmonis. Orangtua selalu memantau dan terlibat sepenuhnya dengan pertumbuhan si anak. Bantu anak memiliki aktivitas yang positif dan memberikan kesenangan, misal kegiatan olahraga, les musik, atau rekreasi. Menurut Veronica, orangtua juga bisa minta pihak sekolah untuk lebih peduli terhadap bahaya narkoba.
"Misalnya, mengawasi titik-titik rawan di sekolah seperti kantin, WC, tempat parkir, dan warung di sekitar sekolah. Sekolah yang baik pasti juga akan mau memberi informasi tentang bahaya narkoba pada seluruh siswa, memberi layanan konseling, kegiatan ekstra kurikuler, serta aktif melibatkan orangtua dalam kegiatan yang berkaitan dengan perkembangan anak di sekolah."


c. Anak yang rentan kena Narkoba
 Mempunyai teman yang merokok
 Mempunyai teman suka minuman keras, mengkonsumsi obat terlarang
 Mempunyai teman yang jarang olahraga
 Punya orangtua yang suka memarahi tanpa sebab, sehingga anak sulit merasakan suasana penuh canda.
 Jarang menghabiskan waktu dengan orangtua.
 Menginginkan hubungan yang lebih baik dengan orangtua.


d. Ciri fisik dan perilaku pengguna Narkoba
 Mata merah
 Hidung dan mata terus-menerus berair
 Sering mual, hilang nafsu makan
 Sering menguap dan ngantuk
 Perubahan perasaan secara tiba-tiba
 Perilaku tidak wajar atau tidak biasa
 Senang menyendiri atau mengurung diri, pergaulan berubah
 Tidak ramah, mudah tersinggung dan marah
 Sering bolos, kegiatan di luar sekolah berkurang
 Prestasi belajar menurun
 Interaksi dengan keluarga sedikit
 Tidak disiplin, sangat malas, jorok
 Gelisah, selalu curiga
 Suka mencuri
 Ditemukan alat-alat bantu penyalahgunaaan narkoba, seperti lipatan aluminium foil, pisau, silet, rokok yang berlubang tengahnya, botol yang berlubang tengahnya, selang, dan sendok teh yang di bawahnya menghitam bekas dibakar (untuk memanaskan obat).


e. Jika anak telanjur kena Narkoba
 Ajak anak bicara dan bertukar pikiran secara terbuka. Dengarkan apa yang dikatakannya, sehingga kita tahu persis penyebab semua tindakannya
 Jangan merasa malu dan menjauh dari anak. Ia butuh keyakinan kalau orangtuanya akan membantu menyelesaikan masalah yang ia hadapi
 Konsultasi dengan tenaga ahli yang menguasai masalah narkoba.



f. Anak-anak yang telantarkan
Matanya cekung badannya kerimping dan tubuhnya seperti orang tak bertenaga. Mereka adalah anak-anak bangsa yang mempunyai hak jaminan hidup nyaman tpi dikebiri. Banyak orangtua, masyarakat dan pemerintah kurang perhaian dan bahkan acuh terhadap masa depan mereka. Tidak heren apabila dalam perjalannya banyak di antara mereka yang lumpuh karena kekurangan gizi. Dan masa depan hidup pun sekan hanya tinggal harapan yang tak pasti.
Dinegeri ini, tidak sedikit anak-anak yang mengalami nasib kurang menguntungkan. Qosim (12), bocah dari Desa Cibuluh, Kecamatan Cidaun, Kebupaten Cianjur, Jawa Barat, menderita lumpuh sejak umur 8 bulan. Kasus serupa banyak dijumpai di Desa Bantasari, Kecamatan Pabuaran, sukabumi, warga yang lumpuh bahkan terindentifikasi sudah 15 orang. Sebanyak 5 orang diantaranya telah meninggal (Kompas/29/4/8). Hal ini juga jamak terjadi dipelbagai daerah yang ada di Indonesia.
Penyebab paling dominan dari semua itu tidak terlepas dari kekurangan gizi. Anak-anak yang sejatinya diopeni dengan member makanan yang bergizi ternyata dibalik. Anak-anak kita banyak yang diberi gizi pas-pasan, mepet, dan bahkan tidak sama sekali. Pada saat itulah anak-anak akan mengalami penyakitan yang pada gilirannya akan mengalami kelumpuhan. Masa menyenangkan yang sejatinya didapat berganti dengan rasa menyesakkan dan menyengsarakan karena mereka hanya bisa meringkuk dipangkuan sang ibu.
Pada dasarnya tanggung jawab paling utama dalam hal ini adalah pihak orang tua, tapim kalu orang tua dalam kondisi ekonomi tidak memungkinkan, maka menjamin kesehatan kehidupan anak adalah tanggung jawab bersama. Karena bagaimanapun hak anak adalah hal fundamental yang tidak hanya menjadi tanggung jawab personal, tapi semua elemen masyarakat dan pemerintah wajib ikut andil dalam memenuhi hak-hak asasi anak.
Dalam Undang-undang anak tahun 2002A telah disebutkan tentang hak-hak anak yang harus dipenuhi, termasuk jaminan kesehatan. Pasal 7 ayat 2. Dalam hal karena suatu sebab orang tuanya tidak dapat menjamin tumbuh kembang anak, atau anak dalam keadaan terlantar maka anak tersebut berhak diasuh atau diangkat sebagai anak asuh atau anak angkat oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku. Dan pasal 8. Setiap anak berhak memperoleh pelayanan kesehatan dan jaminan sosial sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, spiritual, dan sosial.
Pasal tersebut sudah menandaskan bahwa kesehatan adalah ahak anak yang paling pokok. Untuk memenuhi hak anak tersebut adalah tanggung jawab orang tua. Tapi pabila orangtua tidak cukup biaya alias sangat miskin, maka masyarakat dan pemerintah mempunyai kewajiban untuk memenuhi hak kesehatan anak. Pasal 23 (1)A, Negara dan pemerintah menjamin perlindungan, pemeliharaan, dan kesejahteraan anak dengan memperhatikan hak dan kewajiban orang tua, wali, atau orang lain yang secar hokum bertanggung jawab terhadap anak. Saat ini, rasa tanggung jawab untuk memenui ahak-hak anak inilah yang kurang melekat dalamdiri masyarakat dan Negara. Masyarakat dan pemerintah seakan masih belum tergugah kesadarannya secara penuh. Anak – anak sekan dinggap oleh kebanyakan masyarakat kita sebagai anugrah tuhan yang harus diperhatikan oleh keluarganya sendiri.
Disamping itu juga merebaknya penyakit lumpuh pada anak tidak terlepas dari minimnya kesadaran pemerintah dalam menjalankan tanggung jawabnya. Dalam faktanya kesehatan anak itu terganggu tidak lepas dari kondisi ekonomi. Kondisi ekonoi yang sangat memprihatinkan membuat banyak orang tua tiak bisa memnhi hak-hak anak. Pemerintah tidak cermat dan sigap dalam mendetksi tipe ini. Dengan tanpa uluran tangan dari masyarakat dan perhatian khusus dari pemerintah hak-hak anak akan terpangkas dibawah himpitan tekanan ekonomi orangtua.
Pemerintah belum secara lebih serius mengalokasikan anggaran untuk terpenuhinya hak anak-anak. Satu conoth kasus saja program wajib belajar 9 tahun yang selama ini implementasinya masih setengah hati. Padahal di Negara lain dengan masalah anak menjadi perhatian yang cukup serius. Seperti Thailand, sesuai dengan rencana pembangunan sosial dan ekonomi tahap Sembilan, sasaran anggaran 2003 adalah anak-anak dan remaja, kaum miskin, orang cacat, dan penganggur. Begitu juga di Chili, Undang-undang anggaran di Negara tersebut menjamin peningkatan anggaran 25 % alokasi dana untuk mendukung lembaga-lembaga perlindungan anak.
Dengan demikian fenomena merebaknya pemangkasan terhadap hak-hak anak, trutama dalam aspek kesehatan dan pendidikan penting bagi orang tua, masyarkat dan pemerintah intropeksi diri untuk sama-sama menyadari akan kewajibannya dalam memenuhi hak-hak mereka yang terlantar.
Orang tua yang memang berlatar ekonomi tidak mampu untuk memnuhi hak-hak fundamental anak jangan hanya diam dan membiarkan keadaan hak anak terpangkas, tapi bagaimana orang tua mampu memenuhi hak anak lewat bantuan dari masyarakat atau pemerintah setempat. Banyak cara kalau memang orang tua sudah tidak mampu lagi memenuhi hak-hak anak. Seperti yang telah tercantum dalam undang-undang anak adalah dengan diasuh lain.
Pihak masyarakat, atau lain sejatinya menyadari ketika melihat fenomena orangtua yang tidak mampu lagi untuk memiliki rasa tanggung jawab bersama dalam menjamin hak-hak anak. Artinya, lain yang merasa mampu harus menyadari keberadaannya sebagai orang yang mempunyai kewajiban dan tanggung jawab untuk terlibat dalam memenuhi hak-hak anak.
Suksesnya pola relasi antara yang satu dnegan yang lain juga tidak terlepas dari peran serta pemerintah. Banyak orangtua dan masyarakat yang tidak sadar akan hak-hak anak sehingga mereka juga merasa kerepotan. Dalam hal inilah disamping pemerintah terlibat banyak dalam proses pemenuhan tanggun paying hukum perlindungan anak hak-hak anak.
Kepala Badan Koordinasi Berencana Nsional (BKKBN) Sugiri Syarief mengatakan hari Nasional adalah upaya nasional bangsa indonesi untuk mengingatkan bahwa adalah institusi yang paling penting.
“hakekatnya adalh sebuah momentum untuk menyadarkan masyarakat akan pentingnya institusi. Jika bisa menjadi institusi yang diperhatikan oleh bangsa Indonesia, maka tidak aka nada yang namanya tawuran,” ujar Sugiri kepada HOKI usai konfrensi pers terakit hari Nasional XV dan Bualan bakti Gotong Royong V di Kantor Departemen Komunikasi dan Informatika (Depkominfo), jalan Medan Merdeka Barat, Jakrta Psuat.
Sugiri mengatakan sebaiknya smeua elemen masyarakat sebaiknya harus meningkatkan kembali fungsi keluarganya. Dengan begitunya kata dia, nanti peran akan lebih memberikan pertumbuhan sejahtera dan mandiri.
“Kita harus mengingat kembali apakah fungsi sudah berjalan atau belum, apakah kita sudah member perhatian yang besar terhadap peranan atau belum, dan abagaimana kita mendukung untuk pertumbuhan.”

g. Jangan penjarakan anak-anak
Peringatan bagi irang tua dan pemerintah bahwa sebagian pengguna narkoba adalah anak-anak. Karena itu bila salah dalam menangani, bisa berakibat fatal. Sebab, masa depan mereka masih panjang.
Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) menyatakan, pemulihan anak dari ketergantungan narkoba jauh lebih penting dari pada memenjarakan anak akibat zat aditif tersebut.
“Pemindanaan hanya akan berujung stigma negatif pada anak-anak” tegas Arist Merdeka Sirait, Sekjen Komnas PA. Komnas PA selama ini menyanyangkan sikap formal Badan Narkotika Nasional (BNN) dan kepolisian yang memperlakukan pidana serupa terhadap siapa pun terangak narkoba. Padahal, jika dihadapkan pada sudut pandang anak-anak, mereka tidak lain korban peredaran narkoba. “Karena anak-anak, tidak bisa disebu tersangka” kritik Arist.]
Arist menengaskan, keterlibatan anak-anak dan emaja terhadap narkoba memiliki pola yang sama. Kebanyakan mengonsumsinya karena tekanan psikologis ataupun ketidaksegajaan.
Arist mengatakan keterlibatan anak-anak dan remaja terhadap narkoba memiliki pola yang sama. Kebanyakan mengonsumsinya karena tekanan psikologis ataupun ketidak segajaan.
Atas dasar itu, jika anak-anak danremaja diperlakukan sebagai tersangka, sulit memberikan efek sadar kepada mereka agar pulih seperti semula. “Saat mereka dianggap tersangka, anak-anak akan merasa minder ketika kembali.” Ujar Arist.
Pemulihan kepada anak-anak pengguna narkoba, lanjut Arist, sebanrnya bisa diartikan sebagai hukuman kepada mereka. Anak-anak dan remaja dipulihkan dalam suatu proses, tapi hal itu tidak merampas kodrat mereka sebagai anak “Jangan disamakan persepsi anak dengan persepsi orang dewasa saat menggunakan narkoba,”
Jumlah pengguna narkoba di Indonesia setiap tahun meningkat, sehingga mengancam masa depan generasi muda. Data 2007 menunjukkan, 81.702 pelajar dilingkungan SD, SMP, dan SMA menggunakan narkoba. Jumlah pengguna narkoba dari pelajar SD pada 2006 berjumlah 8.449 orang. Jumlah tersebut meningkat lebih dari 100 persen dari tahun sebelumnya yang tercatat 2.542 orang.
Lonjakan paling tinggi terjadi pada jumlah pengguna dilingkungan SMP dan SMA yang kini mencapai 73.253 orang. Padahal pada 2004, pengguna narkoba masing-masing 9.203 orang dan meningkat tajam pada 2005 menjadi 19.489 orang.
Faktor utama yang menyebabkan remaja penyalahgunaka narkoba dimulai dari pengaruh lingkungan (86 persen), sekadar iseng atau coba-coba (74,15 persen), pola asuh yang otoriter (70 persen), pengaruh teman sebaya (51,14 persen), dan pengaruh film dan TV (47,15 persen).








BAB III
KESIMPULAN

Adapun beberapa kesukaran dalam pendidikan antara lain keras hari dank eras kepala, anak yang terlalu dimanjakan anak yang tidak diperhatikan dalam kelurga. Dusta pada anak dan anak yang terkontaminasi narkoba. Keras hati dan keras kepala ialah sifat-sifat anak yang sering sangat menyulitkan para orang tua atau pendidik-pendidik lain. Anak yang terlalu dimanjakan biasanya akan mengalami cacat dalam jiwanya. Memanjakan anak adalah membiarkan dan memperbolehkan sianak berbuat sekehendak hatinya jadi tidak membiasakan dia akan ketertiban, kepatuhan, peraturan dan kebiasaan-kebiasaan lainnya. Anak yang tidak diperhatikan oleh keluarga biasanya dia akan melakukan hal-hal yang kurang baik buat dirinya sendiri. Dusta pada anak bermacam-macam antra lain Dusta semua dandusta sesungguhnya. Dan yang terakhir anak yang trkontaminasi narkoba, sebaiknya kita sebagai orang tua membawa anak tersebut dibawa ke pusat rehabilitasi dan lebih menjaganya dari lingkungan-lingkungan yang tidak baik.







DAFTAR PUSTAKA


Quthub, Ali. 2004. Mengapa Anak Suka Berdusta :. Najla Press : Jakarta
Purwanto, Najalim. 2004. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. PT. Remaja Rosdakarya : Bandung.

www.Google.com

1 komentar: