Rabu, 02 Februari 2011

Merobah skor menjadi Nilai dengan menggunakan metode Norma

SYAMSUL RIZAL
kIMIA

BAB 1
PENDAHULUAN

Proses pembelajaran di sekolah pada umumnya merupakan suatu kegiatan mencerdaskan siswa agar menjadi manusia yang berintelektual, beremosional, dan bers pritual mapan. Proses pembelajaran merupakan kegiatan yag terarah dan terstuktur. Secara umum, kesuksesan pembelajaran dapat di lihat dari aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasi hasil belajar.Dengan demikian ke tiga aspek tersebut sangat penting untuk di perhatikan.apabila proses pembelajaran gagal menghatarkan siswa pada keberhasilan (tujuan pendidikan) maka dapat dikatakan bahwa ketiga aspek tersebut belum terlaksana dengan maksimal.
Dari ketiga aspek tersebut yang paling sering menjadi sorotan publik adalah tentang evaluasi hasil belajar. Orang tua atau masyarakt yang menitipkan anakya untuk bekajar di sekolah dapat mengertahui sejauh mana perkembangan anaknya hanyalah dari nilai hasil ulangan atau raport. Orang tua tidak tahu menahu mengenai proses maupun perencanaan pembelajaran, yang mereka tahu hanyalah anaknya berprestasi atau tidak. Dalam hal ini peran evaluasi belajar sangatlah penting.
Telah lama dikenal beberapa teknik mengumpulkan impormasi hasil bekajar siswa, yakni dengan memberikan soal (objektif, uraian),non-soal (observasi, wawacara, angket), dan penilaian alternative (kinerja ilmiah, portofolio, penugasan hasil kerja/produk). Dari setiap teknik tersebut akan menghasilkan skor-skor, tidak bisa langsung nilai sebagai yang mencerminkan kemampuan siswa dalam kelompoknya. Impormasi-impomasi tersebut perlu di olah dengan cara tertentu. Cara tersebut adalah dengan penilaian acuan norma (PAN) dan penilaian acuan patokan (PAP). Antara PAP dan PAN memiliki perbedaan prinsip, dimana PAPmemggunakan nilai stándar untuk di anggap siswa lulus atau tidak pada suatu pokok bahasan. Sedangkan PAN tidak mendasarkan pada patokan tertentu namun di dasarkan pada kemampuan rata-rata kelompok.
Dengan melihat berbagai kekurangan yang ada di sekolah-sekolah, terutama mengenai kemampuan guru dalam melakukan evaluasi hasil belajar perlu adanya pemahaman yang tepat agar proses evaluasi dari persiapan instrumen sampai melaporkan hasil evaluasi belajar. Proses evaluasi yang baik sering disepelekan oleh para guru. Hal ini boleh jadi yang pertama, karena guru tidak paham dengan cara mengevaluasi kemampuan siswa (apa dan bagaimana). Apa yang semestinya dievaluasi? Dan bagaimana cara mengevaluasinya? Kedua, guru memiliki waktu yang sedikit untuk menyiapkan perangkat evaluasi.
Secara tidak disadari, motivasi belajar anak dipengaruhi oleh adanya nilai yang akan diperoleh. Boleh jadi niat mereka (siswa) belajar bukan untuk menguasai dan menimba ilmu namun tujuannya untuk memperoleh nilai yang tinggi. Dengan demikian nilai dapat dikatakan sebagai alat motivasi siswa untuk lebih giat belajar. Selain itu juga, nilai merupakan informasi untuk guru dalam melaksanakan proses pembelajaran. Nilai juga dapat memberi dampak negatif terhadap siswa apabila nilai jauh dari harapan siswa.
Deskripsi di atas memberikan arahan bahwa menilai kemampuan siswa itu sangat penting. Diperlukan kemampuan yang baik benar untuk menilai kemampuan siswa. Menurut Djemari Mardapi (2008:129), penilaian merupakan sistem komunikasi yang di dalamnya terdapat simbol yang dapat dipahami dengan baik oleh guru, siswa, orang tua, dan masyarakat. Nilai merupakan hasil akumulasi dari skor-skor yang diperoleh siswa. Skor diperoleh dari pengukuran-pengukuran selama proses pembelajaran. Skor inilah yang kemudian ditafsirkan menjadi nilai. Ada dua cara penilaian yang sering digunakan dalam bidang pendidikan, yaitu acuan norma dan acuan patokan. Tulisan ini akan memfokuskan pembahasan pada hal teknis mengubah skor-skor yang diperoleh siswa menjadi nilai dengan menggunakan penilaian acuan norma atau kelompok (norm referenced evaluation).

TUJUAN

Dalam pendidikan, ada dua cara menilai siswa, yaitu penilaian dengan didasarkan pada acuan mutlak atau berdasarkan pada nilai tertentu yang telah ditetapkan dan penilaian yang membandingkan skor siswa dalam satu kelompok atau yang klebih dikenal dengan penilaian acuan kelompok. Makalah ini bertujuan untuk menjelaskan cara mengubah skor yang diperoleh siswa menjadi nilai dengan menggunakan acuan kelompok.


BAB II
PEMBAHASAN

Pada kurikulum 1994, kurikulum sebelum Kurikulum Berbasis Kompotensi (KBK) ATAU Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) cara penilaian yang diterapkan adalah teknik penilaian yang didasarkan pada acuan norma. Namun seiring dengan perubahan model kurikulum maka pada KBK model penilaian berubah menjadi penilaian acuan patokan. Perubahan ini di sebabkan karena KBK atau KTSP mendasarkan pada sistem belajar tuntas (mastery learning). Namun bukan berarti model penilaian acuan norma perusahaan, tes kepegawaian, ataupun tes dalam lomba-lomba cocok pula ditrapkan model penilaian acuan norma.

Dasar pikiran dari penggunaan model ini adalah Andía asumís bahwa disetiap populasi yang heterogen tentu terdapat :
Kelompok baik
Kelompok sedang
Kelompok kurang

Dimulai dengan Bakau sejak lahir hal ini tampak sebagai kecerdasan (IQ), maka suluruh populasi tergambar dalam sebuah kurva normal.
Dalam Suharsimi (2006:238), Cureton menyebutkan bahwa penilaian dengan norma kelompok pertama kali dikemukakan pada tahun 1908 dengan landasan dasar bahwa tingkat pencapaian belajar siswa akan tersebar menurut kurva normal.

Pengertian Penilaian Acuan Norma (Norm Reperenced Evalution)
Penilaian acuan norma sering di sebut jag penilaian relatif atau penilaian acuan kelompok.
Beberapa pengertian penilaian acuan norma,
Menurut Drs . M. Chabab Thaha (2005 : 90) pemberian nilai pada kemampuan masing-masing pesera dibandingkan dengan kemampuan rata-rata kelompoknya.

Menurut Saharsimi Arikunto (2005 : 238) di defisikan sebagai pemberian nilai pada prestasi beklajar seorang siswa dibandingkan dengn siswa lain dalam kelompoknya. Kuallitas seorang sangat dipengarui oleh kuallitas kelompoknya. Seorang siswa yang apabila terjun ke kelompok A termasuk “hebat”, mungkin jika di pindah ke kelompok yang lain hanya menduduki koalitas “sedang” saja. Ukurannya adalah relatif.
Perbedaan skor dan nilai
Sebelum penulis menjelaskan tentang cara pengubahan dan pengolahan skor mentah hasil test hasil belajar menjadi nilai estándar, maka perlu dijelaskan terlebih dahulu tentang perbedaan antara skor dan nilai. kadang-kadang orang menganggap bahwa skor itu mempunyai pengertian yang sama dengan nilai, padahal anggapan tersebut belum tentu benar berikut beberapa penjelasan para ahli tentang perbedaan skor dan nilai
Menurut Suharsimi ( 2005:235 ) bahwa skor adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoles dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang di jawab betul oleh siswa. Sedangkan nilai adalah angka ubahan dari skor dengan menggunakan acuan tertentu, yakni acuan norma attau acuan standar.
Menurut Anas Sudijono ( 2007:309 ) bahwa skor merupakan hasil pekerajaan memberi angka yang diperoles dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap batir item yang siperoleh testee telah dijawab dengan betul, dengan memperhitungkan jawaban betulnya. Sedangkan nilai adalah angka ( bisa juga huruf), yang merupakan hasil ubahan dari skor.
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa kegiatan penskoran (scoring) dan penilaian merupakan satu rangkaian kegiatan yang tidak dapat dipisahakan. Penskoran merupakan kegiatan mengumpulkan data melalui tes maupun non-tes sehingga di peroles skor mentah (raw store) untuk kemudian diolah atau dikonversi (diubah).





C. Mengubah (Mengolah) Skor Mentah Tes Hasil Belajar dengan Berdasar pada Norma (Norm Referenced Evaluation)

Ada dua hal penting yang perlu dipahami terlebih dahhulu dalam pengolaan skor mennjadi nilai,
Dalam mengubah skor mentah (law store) menjadi nilai ada dua cara yang dapat di tempuh yakni penilaian acuan patokan (PAP) dan penilaian acuan norma(PAN).
Dalam mengubah skor mentah menjadi nilai dapat menggunakan berbagai macam skala, yakni skala lima (stanfive), skala sembilan (stanine), skala sebelas (stanel),skala nilai Z (Z-skore), dan skala nilai T (T-skore).

Beberapa sakla penilaian yang di sebukan diatas berlaku sama pada PAP dan PAN, tetapi pada PAN sebagai nilai rerata adalah rerata actual dan simpangan bakunya adalah simbangan baku actual sedangaan pada PAN berlaku rerata ideal dan simpangan baku ideal.

1. Mengubah skor menjadi nilai menggunakan stándar skala lima
Mengubah skor menjadi nilai stándar skala lima atau nilai huruf menggunakan patokan sebagai berikut :
A
Mean + 1,5 SD
B
Mean + 0,5 SD
C
Mean – 0,5 SD
D
Mean – 1,5 SD
E

Mengubah skor menjadi nilai menggunakan standar berskala sembilan
Jika skor-skor mentah hasil tes itu akan diubah menjadi nilai standar berskala sembilan, maka patokan yang di gunakan adalah sebagai berikut:




9
M + 1,75SD
8
M + 1,25 SD
7
M + 0,75 SD
6
M + 0,25 SD
5
M – 0,25 SD
4
M - 0,75 SD
3
M – 1,25 SD
2
M – 1,75 SD
1

Mengubah skor mentah menjadi nilai standar berskala sebelas(satnel)
Nilai standar berkala sebelas adalah rentang nilai sandar mulai dari 1 sampai 10. nilai standar berkala sebelas ini umumnya digunakan dalam lembaga pendiikan tingkat dasar dan menengah. Perubahan skor menjadi nilai menggunakan patokan berikut:

9
M + 1,75SD
8
M + 1,25 SD
7
M + 0,75 SD
6
M + 0,25 SD
5
M – 0,25 SD
4
M - 0,75 SD
3
M – 1,25 SD
2
M – 1,75 SD
1




Salah satu contoh penerapannya adalah sebagai berikut:
Misalkan dalam UN Bahasa Inggris Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 1 Dompu diikuti oleh 200 siswa, dimana skor maksimum ideal dari UN tersebut adalah 100, diperoleh skor-skor mentahnya sebagai berikut:

Skor Mentah Frekuensi
57-59 2
54-56 5
51-53 11
48-50 23
45-47 38
42-44 54
39-41 36
36-38 19
33-35 9
30-32 2
27-29 1
Total 200 N


Langkah pertama, mencari nilai rata-rata hitung yang mencerminkan prestasi kelompok dan mencari standar deviasi.

Skor Mentah Frekuensi X x’ fx’ (fx)’
57-59 2 58 5 10 50
54-56 5 55 4 20 80
51-53 11 52 3 33 99
48-50 23 49 2 46 92
45-47 38 46 1 38 38
42-44 54 43 0 0 0
39-41 36 40 -1 -36 36
36-38 19 37 -2 -38 76
33-35 9 34 -3 -27 81
30-32 2 31 -4 -8 32
27-29 1 28 -5 -5 25
Total 200 N - - 33 609



Dengan menggunakan rumus mean: M = Me + i ((∑fx')/N), maka diperoleh meannya adalah 43,495. Sedangkan standar deviasinya SD = i √((∑fx')/N) - {(∑fx')/N} maka diperoleh standar deviasinya 5,212.
Langkah kedua, mengkonversi skor mentah menjadi nilai berskala sebelas dengan patokan rumus an yang telah dijelaskan di atas, uraiannya:

M + 2,25 SD : 10---43,495+2,25 (5,212) = 55,222
M + 1,75 SD : 9-----43,495+1,75 (5,212) = 52,616
M + 1,25 SD : 8-----43,495+1,25 (5,212) = 50,01

Mengubah skor skala nilai 101 menjadi skor standar
Dengan menggunakan skor skala 1-10 maka bilangan bulat yang ada masih menunjukkan penilaian yang agak kasar. Untuk itu dapat digunakan skala 1-100. Dengan skala ini dimungkinkan melakukan penilaian yang lebih halus karena terdapat 100 bilangan bulat. Nilai 5,5 dan 6,4 dengan skala sebelas yang biasanya dibulatkan menjadi 6, dengan skala 1-100 ini dapat dituliskan 55 dan 64.
Konversi skor menjadi nilai Z
Nilai standar atau Z skor umumnya digunakan untuk mengubah skor-skor mentah yang diperoleh dari berbagai jenis pengukuran yang berbeda-beda. Misalnya dalam tes seleksi penerimaan mahasiswa baru diisyaratkan lima jenis tes: bahasa inggris (X1), IQ (X2), tes kepribadian (X3), tes sikap (X4), dan tes kesehatan jasmani (X5). Skor yang diperoleh para testee adalah sebagai berikut:
Testee Skor Mentah
Bahasa Inggris IQ Kepribadia Sikap Kesehatan jasmani
A 72 114 48 172 221
B 65 105 51 163 205
C 76 115 44 169 224
D 64 107 42 179 198
E 71 101 55 181 207
F 73 120 56 175 219
G 75 125 57 183 225
H 68 109 49 168 216
I 70 103 51 167 224
J 66 111 47 153 211
Dalam z skor testee yang dipandang memiliki kemampuan yang lebih tinggi adalah testee yang z skornya bertanda positif (+), dan yang lemah bertanda negatif (-). Rumus umumnya adalah: Z = X/SDx, dimana:
Z = z skor, x = deviasi skor X, SD = standar deviasi dari skor x
Dlam rangka menkonversi z skor menjadi nilai standar z, langkah-langkah yang mesti di lakukan adalah sebagai berikut:
Menjumlahkan skor variabel XI sampai dengan X5 (∑X1, ∑X2....dst)
Mencari skor rata-rata hitung (mean) dari masing-masing varibel dengan rumus M X1= (∑X1)/N (satu persatu untuk masing-masing variabel)
Mencari deviasi X1, X2, dst. Dengan rumus:
X1 =X1- M x1, dst.
Menguadratkan deviasi X 1 sampai X5 kemudian di jumlahkan sehingga diperoleh ∑X1, ∑X2,...dst
Mencari deviasi standar untuk kelima variabel tersebut dengan menggunakan rumus berikut:
SD x1= √((∑X■(1@2))/N)
Lalu, menghitung z skor sesuai dengnan rumus yang telah tertera di atas.
Z skor yang di peroleh oleh masing-masing testee di jumlahkan, maka kemudian akan dikertahui testee yang memeilih z skor yang fositif dan yang negatif.











Berikut penerapannya,. Dari data sebelumnya maka dapat diuraikan sebagai berikut:
Langkah I, II, dan III.
Testee Skor Mentah Deviasi (x)
X1 X2 X3 X4 X5 X1 X2 X3 X4 X5
A 72 114 48 172 221 +2 +3 -2 +1 -4
B 65 105 51 163 205 -5 -6 +1 -8 -10
C 76 115 44 169 224 +6 +4 -8 +8 -17
D 64 107 42 179 198 -6 +4 -6 -2 +9
E 71 101 55 181 207 +1 -10 +5 +10 -8
F 73 120 56 175 219 +3 +9 +6 +4 +4
G 75 125 57 183 225 +5 +14 +7 +12 +10
H 68 109 49 168 216 -2 -2 -1 -3 +1
I 70 103 51 167 224 0 -8 +3 -4 +9
J 66 111 47 153 211 -4 0 -3 -18 +6
N=10 700 1110 500 1710 2150 0 0 0 0 0
MX1 = 70, MX2 =111, MX3, = 50, MX4 = 171, MX5 = 215

Langkah IV,V,VI,dan VII
Testee Kuadrat Deviasi (x2) Z Skor Total
z skor
X1 X2 X3 X4 X5 Z1 Z2 Z3 Z4 Z5
A 4 9 4 1 16 +0,51 +0,41 -0,42 +0,12 -0,45 +0,17
B 25 36 1 64 100 -1,27 -0,83 +0,21 -0,93 -1,13 -3,95
C 36 16 36 4 81 +1,52 +0,05- -1,26 -0,3 +1,02 +1,60
D 36 16 64 64 289 -1,52 -0,55 -1,68 +0,93 +1,92 -4,74
E 1 100 25 100 64 +0,25 -1,38 +1,05 +1,16 -0,90 +0,18
F 9 81 36 16 16 +0,76 +1,25 +1,26 +0,46 +0,45 +4,18
G 25 196 49 144 100 +1,27 +1,94 +1,47 +1,39 +1,13 +7,20
H 4 4 1 9 1 -0,51 -0,28 -O,21 -0,35 +0,11 -1,24
I 0 64 1 16 81 0 -1,11 +O,21 -0,46 +1,02 -0,34
J 16 0 0 324 36 -1,01 0 -0,63 -2,09 +0,67 -3,06
N=10 156 522 226 742 784 0 0 0 0 0
SDX 1= 3,95, SDX2 = 7,22, SDX3 = 4,75, SDX 4=8,16, SDX5 = 8,85

Dari tabel di atas diperoleh z skor paling tinggi untuk kelima tes tersebut adalah peserta D. Semua yang bertanda positif menunjukkan nilai z skor tinggi dan negatif rendah. Dalam hal ini tergantung berapa kuota yang ingin diterima oleh perguruan tinggi tersebut.

Konversi skor menjadi nilai Tata cara standar
Konversi skor menjadi T standar adalah angka standar yang menggunakan mean sebesar 50 dan deviasi standar sebesar 10. Antara skala nilai 101 dan T skor nampaknya sama. Dalam Depdiknas (2004: 21) dijelaskan bahwa rumus yang digunakan untuk menentukan nilai dengan skala 101 adalah:
T = 50 + (X-M)/SX 10
T skor dicari atau dihitung dengan maksud untuk meniadakan tanda minus yang terdapat di depan nilai standar z sehingga lebih mudah dipahami.
Penentuan Nilai Akhir
Nilai akhir merupakan hasil akumulasi berbagai nilai atau skor yang diperoleh siswa (Masidjo, 1996: 179). Dari pendapat ini maka dapat dikatakan bahwa nilai akhir dapat dihitung dari skor yang diperoleh dari masing-masing hasil pengukuran dan dapat juga diperoleh dari skor yang sudah dikonversi menjadi nilai.
Kelebihan yang akan diperoleh apabila menggunakan skor dalam penentuan nilai akhir adalah adanya kemurnian karena belum terpengaruh oleh suatu acuan penilaian. Selain itu juga tidak membutuhkan kerja yang terlalu banyak namun caranya sama. Salah satu cara yang dapat ditempuh dalam penentuan nilai akhir adalah dengan menjumlahkan nilai tugas (T), nilai ulangan harian dan nilai ulangan umum, yang masing-masing diberi bobot 2, 3, dan 5 lalu dibagi 10 (jumlah bobot). Rumusannya:

NA = (2 (T)+ 3 (H)+ 5 (U))/10
Misalnya, Banu (siswa) memperoleh nilai sebagai berikut:
Nilai tugas I : 10
Nilai tugas II : 8
Ulangan harian I : 6
Ulangan harian II : 8
Nilai ujian Mid : 7
Nilai ujian akhir : 6



Maka, nilai rata-rata tugas 9, rata-rata ulangan harian 7, rata-rata ujian Mid dan ujian akhir 6.
NA = ((2X9)+(3X7)+(5X6))/10
= 69/10 = 6,9 (dibulatkan 7)
Menentukan Kedudukan Siswa Dalam Kelompok
Kedudukan siswa dalam kelompok adalah letak urutan siswa dalam tingkatan, dalam istilah yang umum disebut rangking. Ada beberapa macam cara untuk menentukan kedudukan siswa dalam kelompok, yaitu:
Dengan rangking sederhana;
Dengan rangking persentase;
Dengan standar deviasi;
Dengan Z skor dan T skor.
Berikut akan dijelaskan beberapa saja:
Dengan rangking sederhana
Merupakan urutan yang merupakan letak seseorang dalam kelompoknya dan dinyatakan dalam bentuk angka biasa. Siswa akan dirangking berdasarkan tingginya skor yang diperoleh. Apabila terdapat skor sama, maka mempunyai rangking yang sama.
Dengan rangking persentase
Merupakan kedudukan siswa dalam kelompok yang didasarkan pada persentase skor yang ada di bawahnya. Caranya:
Menentukan dahulu simpel rangkanya;
Mencari banyaknya siswa dalam kelompok tersebut yang ada di bawahnya;
Mengalikan dengan 100 setelah dibagikan dengan kelompok.
Misal, PR untuk Ani adalah 12/20 X 100 = 60.
Artinya, Ani mengalahkan letaknya dalam kelompok mengalahkan 60 % untuk prestasi yang bersangkutan.
Standar deviasi
Yang dimaksud dengan penetuan kedudukan siswa dengan standar deviasi adalah penentuan kedudukan dengan membagi kelas atas kelompok-kelompok. Cara ini dapat dilakukan dengan dua cara, yakni dengan 3 rangking dan 11 rangking.

Dengan 3 rangking, caranya:
Jumlahkan skor semua siswa
Tentukan mean dan simpangan bakunya
Tentukan batas kelompoknya (kelompok atas, sedan, kurang).
Dengan 11 rangking sama dengan penentuan pada skala nilai 11.




























BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Beberapa kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembahasan ini antara lain:
Penilaian acuan norma merupakan penilaian yang didasarkan pada keadaan kelompok. Prestasi siswa dapat dipengaruhi oleh keadaan kelompoknya yang dinyatakan dalam bentuk distribusi normal.
Terdapat perbedaan antara pengertian penskoran dan penilaian. Skor adalah hasil perhitungan terhadap jawaban yang benar/ benar-benar dilakukan. Sedangkan nilai merupakan hasil konversi dari skor.
Konversi skor menjadi nilai dapat dilakukan dengan menggunakan panduan skala nilai, yakni skala nilai 5, skala nilai 9, skala nilai 11, skala nilai 101, skala nilai Z dan T.

Kritik Dan Saran
kami menyadari bahwa dalam menyusun makalah ini banyak sekali mengalami kesulitan, terutama sekali disebabkan oleh keterbatasan ilmu yang kami miliki, karena itu kritik dan saran yang sifatnya membangun sangat kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.














DAFTAR PUSTAKA

Anas Soejono. (2008). Pengantar Evaluasi Pendidikan, Jakarta: Raja Gravindo Persada.
M Chabib Thoha: Teknik Evaluasi Pendidikan, Rajawali pers jakarta 1990
Masidjo. (1996). Penilaian pencapaian hasil belajar siswa di sekolah. Yogyakarta: Kanisius.
Saifudin Azwar. (1998). Tes prestasi. Yogyakarta:Pustaka Pelajar.
Sukardjo. (2008). Modul perkuliahan pada pogram studi pendidikan sains pogram Pascasarjana UNY tahun 2008. Yogyakarta.
Saharsimi. (2006). Dasar-dasar evaluasi pendidikan. Jakarta: Bumi Askara.

2 komentar:

  1. tulisannya bagus,,sangat membantu
    tapi ada sedikit masukan,, tulisannya agak susah dibaca. coba tata letak dan pengaturannya diperbaiki agar teman-teman juga mudah membaca tulisan anda.
    terima kasih

    BalasHapus
  2. Bagus juga, tp cman memberikan sdkt masukan coba background dan pengaturannya di perbaiki karena tulisannya agak susah dibaca.
    terimakasih

    BalasHapus